Kamis, 20 September 2018

Dosen IAIN Parepare jadi Open dan Invited Panel AICIS 2018

IAIN Parepare---- Pada kegiatan AICIS ke 18 kali ini beberapa dosen menjadi Open Panel dan Invited Panel salah satunya H. Islamul Haq, Lc, MA yang membahas Studi Filologi terhadap Kitab "At Taaqqubat Ala Al Muhimmat" karya Syekh Ahmad bin Imad bin Yusuf bin Abdunnabi Abu Al Abbas Syihabuddin Al Afqahasi (19/09).

[caption id="attachment_8870" align="alignnone" width="300"] Foto sisi kanan: H. Islamul Haq, Lc, MA[/caption]

Pentinganya studi filologi terhadap naskah kitab "At taaqqubaat ala Almuhimmat" mengingat kitab tersebut adalah kitab dalam mazhab Syafii yang notabene merupakan mazhab yang dipegangi mayoritas masyarakat Indonesia.

Sementara, Invited Panel ibu Dr. Zulfah, M. Pd, membahas tentang model program bilingual berdasarkan fungsi bahasa guru, yakni penggunaan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa instruksional dan bahasa Inggris sebagai bahasa manajerial.

[caption id="attachment_8872" align="alignnone" width="300"] Foto: Urutan kedua kiri, Dr. Zulfah, M. Pd[/caption]

"Bahasa instruksional adalah ujaran yang terkait dengan materi ajar sementara bahasa manajerial adalah ujaran yang terkait dengan manajemen kelas atau kontrol atas perilaku siswa di kelas. Menurut hasil uji coba desain ini efektif meningkatkan hasil belajar siswa,"jelas Zulfah.

Penulis: Nining Artianasari

 

AICIS 2018: Evaluasi PW dan Forum Direktur Pascasarjana

IAIN Parepare---- Annual Internatioanl Conference Studies yang ke 18 menjadi sebuah momentum bagi Perguruan Tinggi Islam dalam melaksanakan pertemuan sama halnya yang diikuti oleh Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Dr. Abu Bakar Juddah, M. Pd yakni membahas, pertama tentang evaluasi Perkemahan Wirakarya (PW) UIN Riau, kedua pionir di UIN Malang dan pelaksanaan PBAK masing-masing PTKIN dan terakhir student mobility program (SMP), Selasa (18/09).

Bukan hanya itu, selain Wakil Rektor III para Direktur Pascasarjanapun melaksanakan pertemuan yang dipimpin langsung oleh Prof. Arskal Salim yang mengatakan beberapa hal diantaranya, pertama kembalikan marwah pascasarjana sebagai tempat perkembangan pemikiran, Islamic studies. Kedua, peningkatan kualitas dosen melalui penelitian. Ketiga, program guru besar mengajar atau dosen tamu selama satu bulan. Keempat, manajemen pengelolaan pascasarjana terkait Ortaker (Organisasi dan Tata Kerja) untuk keseragaman apakah Fakultas pascasarjana atau Sekolah Pascasarjana.

Sementara pada forum direktur pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Se-Indonesia tema yang diangkat "Meningkatkan Mutu Akademik berbasis Kerjasama Internasional" membahas beberapa hal penting yang terkait dengan peningkatan kualitas pascasarjana sehingga memiliki daya saing bukan hanya tingkat regional tetapi juga internasional. Forum ini dihadiri direktur pascasarjana PTKIN seluruh Indonesia, termasuk salah satu perwakilan Direktur Pascasarjana IAIN Parepare, Dr. H. Muhammad Saleh, M. Ag selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis IT.



Selain itu juga dibahas mengenai kurikulum pascasarjana, dimana diharuskan untuk merumuskan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), sehingga orientasi pembelajaran sesuai dengan rumusan capaian yang diharapkan, diperlukan pula adanya Student Center Learning (SCL) dan CP.



Penulis: Nining Artianasari

Rabu, 19 September 2018

Kepala Biro AUAK IAIN Parepare, Ajak Tingkatkan Kinerja

IAIN Parepare--- Puluhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam lingkup AUAK (Administrasi, Umum, Akademik dan Keuangan) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare mengikuti pertemuan tatap muka bersama Kepala Biro AUAK IAIN Parepare, Selasa (18/09).

[caption id="attachment_8861" align="alignnone" width="300"] Lokasi: Ruang seminar Pascasarjana IAIN Parepare[/caption]

Kepala Administrasi, Umum, Akademik dan Keuangan (AUAK) IAIN Parepare, Hj. Musyarafah, S. Sos, M. Si merupakan pejabat baru di lingkup IAIN Parepare yang baru-baru ini dilantik langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia.



"Satu bulan ini saya masih mempelajari situasi dan kondisi yang ada di kampus ini dan tepatnya pertemuan ini saya memang ingin lebih dekat dengan teman-teman untuk nantinya kita saling sharing (berbagi) pengalaman tugas. Harapannya kita sama-sama membangun ide-ide atau gagasan-gagasan positif dalam rangka pengembangan institut kita,"harap Musyarafah, Kepala Biro AUAK IAIN Parepare.

Selain itu, pertemuan tersebut juga menjadi ajang penyamaan persepsi antara pegawai sehingga diharapkan adanya peningkatan kinerja demi pengembangan IAIN Parepare yang lebih baik.

 

 

Alih Status Jadikan sebagai Hijrah bagi PTKI

IAIN Parepare--- Pada pembukaan Annual International Conference on Islamic Studies ke 18 Menteri agama juga menyampaikan kepada seluruh pimpinan PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) bahwa dalam konteks kementerian agama seperti yang diketahui dalam beberapa tahun terakhir sejumlah PTKI mengalami penguatan penguatan struktural yang cukup signifikan dimana Sekolah Tinggi menjadi Institut dan sejumlah Institut menjadi Universitas (18/09).



"Saya sangat sering tegaskan pada pimpinan kampus bahwa transformasi tersebut hendaknya tidak semata dipahami sebagai peningkatan penambahan anggaran atau penambahan jumlah program studi belaka namun lebih dari itu adalah hijrah. Yang ingin saya tegaskan bahwa dalam memanfaatkan momentum tahun baru Hijriah ini alih status dari Sekolah Tinggi menjadi Institut dan sejumlah Institut menjadi Universitas hakikatnya adalah hijrah," jelas Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin.



Lebih lanjut Menteri Agama menjelaskan hijrah perguruan tinggi Islam dari penekanan awal sebagai lembaga dakwah ilmu-ilmu agama menjadi Institut yang memiliki tradisi riset.

"Kampus yang mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan sains dan teknologi serta rumah yang nyaman bagi dosen dan peneliti untuk menghasilkan temuan-temuan berkualitas yang dapat memberikan kontribusi bagi pengetahuan dan keilmuan global", tambahnya.

"Kita perlu tunjukkan bahwa buku kita juga bisa diterbitkan oleh penerbit-penerbit dari luar negeri dan artikel yang kita tulis tidak hanya tersimpan di rak pribadi melainkan bisa terbit juga di jurnal-jurnal nasional dan internasional"


-Lukman Hakim Saifuddin-


Menteri Agama Republik Indonesia



 

Penulis: Nining Artianasari

 

Selasa, 18 September 2018

AICIS 2018, Islam in a Globalizing World: Text, Knowladge, and Practice

IAIN Parepare--- Kegiatan Annual International Conference on Islamic Studies yang ke 18 resmi dibuka oleh Menteri Agama sekaligus menjadi Keynote Speeches di Ballroom Hotel Mercure Palu Sulawesi Tengah, Selasa (18/09).



Dalam sambutan Menteri Agama bahwa Tema dari kegiatan tersebut yakni Islam in Globalizing World: Text, Knowladge, and Practice sangat jelas mengisyaratkan kepada kita semua bahwa tiga hari kedepan ini kita akan disuguhi paparan dan makalah-makalah hasil riset multidisiplin yang sangat berkelas dari para sarjana dan peneliti baik dari dalam maupun luar negeri terkait posisi Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya sebagai kawan cerdik dan cendekiawan di muka dunia.

Menteri Agama juga membahas kasus-kasus kerukunan antar umat beragama yakni interaksi mayoritas dan minoritas ataupun sebaliknya bahkan gesekan gesekan yang terjadi akibat beragamnya keyakinan, pemahaman, dan keagamaan pun dapat menjadi studi kasus untuk merumuskan hipotesis melakukan riset kemudian memproduksi pengetahuan dalam bentuk makalah, artikel, buku, serta mendesiminasikannya ke dunia akademik nasional maupun internasional melalui Konferensi semacam ini.

"Kajian teks, pengetahuan, dan praktek praktek keseragaman muslim nusantara jelas membutuhkan ragam pendekatan ilmu sejarah, sastra, sosiologi, antropologi, hukum politik dan ragam disiplin ilmu lainnya,"ucap Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin.



Adapun tiga harapan Menteri Agama pada pelaksanaan AICIS 2018. Pertama, Menteri Agama menginginkan agar hasil-hasil diskusi selama pagelaran konferensi ini dapat memberikan manfaat bagi penguatan program program di lingkungan Kementerian Agama sendiri. Kedua, dalam konteks kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia khususnya, "saya sangat berharap bahwa diskusi para narasumber selama 3 hari kedepan juga membahas sejauh mana kita bisa merespon serta memberikan solusi atas persoalan persoalan sosial keagamaan yang belakangan mengganggu kerukunan umat beragama,"harapnya.

[caption id="attachment_8852" align="alignnone" width="300"] Para dosen IAIN Parepare[/caption]

Terakhir, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin juga berharap agar selama konferensi tersebut berlangsung, para narasumber dan peserta juga dapat bersama-sama memikirkan kontribusi apa yang dapat diberikan untuk perdamaian dunia.

"Mari kita memupuk rasa percaya diri yang tinggi untuk bersama-sama mempromosikan dan menjadikan Islam Wasatiya sebagai masa depan peradaban dunia. Mari kita bangun rasa percaya diri untuk menunjukkan kemampuan kita hidup damai dan berdampingan bersama dalam merawat praktek keberagaman di tengah keragaman suku, budaya, dan agama," ajak Menteri Agama kepada para sarjana, peneliti, undangan, maupun partisipan yang hadir.

"No Sabara No Sabatutu,


berasal dari bahasa Kaili yang artinya bersama kita menjadi satu. 
Mari kita menyatukan diri untuk menjaga, memelihara dan merawat peradaban kita bersama".


-Lukman Hakim Saifuddin-


Menteri Agama Republik Indonesia



 

 

 

Penulis: Nining Artianasari

 

 

 

AICIS 2018, Pendidikan Islam di Indonesia Relatif Terbuka dalam Berfikir Kritikal

IAIN Parepare---- Annual International Confrence on Islamic Studies (AICIS) ke 18 tahun 2018 yang diselenggarakan di Palu, sulawesi tengah. Adapun tradisi sebelum AICIS dibuka yakni menyelenggarakan on Stage Discussion 1 dengan tajuk The Current Development of islamic studies yang diselenggarakan di Auditorium utama IAIN Palu. Senin (17/9).

Kegiatan tersebut membahas tentang studi Islam di Indonesia serta pengaruh studi Islam di mata dunia. Serta apa saja yang telah dilakukan perguruan tinggi Islam tentang studi Islam di Indonesia serta peran kementerian agama dalam menangani masalah yang ada dalam perkembangan studi Islam.

"Indonesialah yang dapat mengantarkan kepada generasi muslim dunia, karena pendidikan Islam di Indonesia relatif literbuka, keterbukaan dalam berfikir serta kritikal berfikir mestinya ada dalam pendidikan Islam" terang Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah selaku salah satu speaker dari UIN Sunan Kalijaga.



Prof. Amin juga menjelaskan di salam buku Fazlur Rahman yang berjudul Islam and Modernity : Transformation of an Intellectual Tradition secara jelas mengatakan berharap hanya Indonesia yang sebetulnya yang siap masuk ke Modernitas. Era Modernitas yakni toleran, harmonis antar agama hal tersebutlah yang sangat nampak di Indonesia.



On Stage Discussion 1 ini dipandu langsung oleh Prof. Dr. Arskal Salim GP (Director of Islamic Higher Education) dan yang menjadi speaker Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA (Director General of Islamic Education), Prof.Dr. H. M. Machasin MA, (guru besar UIN Syarif Hidayatullah), Prof. Dr. H. M. Amin abdullah, (guru besar UIN Sunan Kalijaga) dan Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum dan Dr. Amelia Fauzia (staf ahli menteri).



Pada kegiatan AICIS ke 18 tahun 2018 IAIN Parepare mengikut sertakan 1 professor, 17 doktor, 12  dosen serta 4  dosen sebagai pemateri panel pada kegiatan tersebut.

Penulis: Nining Artianasari

KPM 2018: Peresmian Ruang Baca Sulapa Eppa

IAIN Parepare--- Dalam rangka meningkatkan budaya baca dan literasi masyarakat, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) IAIN Parepare, Dr. Sitti Jamilah Amin meresmikan ruang baca Sulapa Eppa di desa Tonronge, kecamatan Baranti kabupaten Sidrap (14/09).



Pengadaan ruang baca juga muncul dari kegelisahan masyarakat terhadap banyaknya pemahaman radikalisme dan hoax, untuk mencounter isu tersebut maka kedepannya bersama masyarakat ruang baca ini akan dijadikan sebagai tempat berdiskusi berbagai persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan.